Sektor pariwisata Indonesia saat ini tengah menghadapi dilema yang pelik. Di satu sisi, industri ini digenjot menjadi motor pemulihan ekonomi nasional. Namun di sisi lain, ancaman kerusakan ekologis akibat wisata massal (mass tourism) tidak terjadwal dan ledakan sampah plastik kian nyata. Fenomena ini melahirkan istilah sick tourism (wisata yang sakit), ditandai dengan pencemaran mikroplastik yang merusak daya dukung lingkungan tempat wisata.
Melihat fenomena tersebut, tim peneliti yang terdiri dari Faly Marlian Putra dan Gloria Angelita dari Universitas Sahid Jakarta, bersama Algooth Putranto dari Universitas Dian Nusantara Jakarta, melakukan riset mendalam mengenai strategi komunikasi ekologis. Studi bertajuk “Storytelling Analysis: Building a Sustainable Ecotourism Brand” membongkar kesuksesan Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta dalam membalikkan tren kerusakan lingkungan menjadi keberlanjutan ekonomi lewat kekuatan cerita (storytelling).
Riset kualitatif deskriptif ini menyoroti bagaimana kampanye makro seperti “Indonesia Hijau dan Sehat” tidak akan berdampak besar jika hanya menjadi propaganda searah dari atas ke bawah (top-down). Sebaliknya, Nglanggeran berhasil karena mengubah komunikasi linier tersebut menjadi dialog interaktif berbasis komunitas yang digerakkan oleh teknologi digital dan keterlibatan perempuan di akar rumput.

Foto: Humas Kemenparekraf
Mengubah Kode Promosi: Dari Estetika Visual ke Narasi Bumi
Merujuk pada Teori Komunikasi Ekologis dari Niklas Luhmann, salah satu hambatan terbesar dalam isu lingkungan adalah fakta bahwa alam tidak memiliki bahasa manusia untuk memprotes kerusakan dirinya sendiri. Kerusakan lingkungan baru dianggap sebagai masalah sosial ketika dampaknya berhasil diterjemahkan ke dalam kode sistem sosial, seperti ekonomi atau hukum.
Di sinilah Desa Wisata Nglanggeran mengambil peran strategis. Pengelola desa wisata bertindak sebagai sumber informasi tepercaya yang merestrukturisasi pesan promosi pariwisata mereka. Mereka menggeser fokus iklan dari yang awalnya sekadar mengeksploitasi keindahan estetika visual (superficial aesthetics) menjadi narasi edukasi geologi yang mendalam. Konsep ini dikenal sebagai “Storytelling for Earth” (Bercerita untuk Bumi). Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi diajak memahami sejarah gunung api purba dan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem tersebut.
Melalui saluran digital, narasi edukatif ini kemudian diamplifikasi secara organik oleh para pelancong melalui konten buatan pengguna (User-Generated Content/UGC) dan testimoni digital dari mulut ke mulut (Electronic Word of Mouth/e-WoM). Saat wisatawan membagikan pengalaman konservasi mereka di media sosial, mereka secara sukarela bertransformasi menjadi “agen duta lingkungan” (eco-ambassadors), yang memperkuat kepercayaan merek hijau (green brand trust) tanpa adanya distorsi institusional.
Kekuatan Perempuan di Akar Rumput: Motor Penggerak Usaha Hijau
Riset ini juga menegaskan bahwa keberlanjutan branding ekowisata sangat ditentukan oleh jaringan komunikasi partisipatif di tingkat lokal. Dalam konteks Nglanggeran, dinamika ini digerakkan secara nyata oleh kelompok perempuan melalui perspektif Ekofeminisme.
Melalui wadah Forum Pemberdayaan Perempuan, para perempuan setempat menjadi komunikator utama etika lingkungan di garis depan rantai pasok pariwisata. Bentuk nyatanya terlihat pada tata kelola unit usaha “Griya Cokelat”. Unit usaha berbasis komunitas ini menerapkan prinsip produksi ramah lingkungan dan minim sampah (zero-waste practices).
Melalui komunikasi kelompok kecil dan dialog tatap muka, para perempuan ini mampu menyuntikkan nilai-nilai konservasi langsung kepada konsumen dan komunitas lokal. Langkah ini membuktikan bahwa kedaulatan ekonomi masyarakat desa dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan secara adil jika melibatkan partisipasi gender yang inklusif.
