Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam bahasa dan budaya. Budaya adalah sebuah cara hidup dari suatu kelompok yang berkembang lalu diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya bukan sesuatu yang konstan, tapi budaya terus berubah mengikuti perkembangan yang dialami oleh manusia. Perkembangan dan perubahan budaya terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah karena adanya dorongan eksternal seperti perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi membuat manusia menjadi lebih mudah mendapatkan informasi dan menyebabkan pertukaran budaya antar negara menjadi semakin mudah terjadi. Kondisi ini menyebabkan masyarakat Indonesia semakin terbuka terhadap budaya asing yang masuk melalui berbagai media. Salah satu budaya asing yang populer dan mencuri perhatian besar khususnya di kalangan generasi milenial dan Gen-Z di Indonesia adalah budaya populer Korea Selatan yang dikenal sebagai Korean Wave. Korean Wave adalah fenomena penyebaran budaya Korea Selatan secara global dan mencakup berbagai aspek, mulai dari industri hiburan, gaya hidup seperti kuliner, fesyen, dan kecantikan hingga bahasa.
Besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Korean Wave terlihat dari berbagai survei internasional. Berdasarkan data dari Korean Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE), Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah penggemar Korean Wave terbanyak di dunia pada tahun 2019 dan 2020. Popularitas budaya Korea di Indonesia kemudian terus mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan oleh platform media sosial Twitter pada akhir tahun 2021, yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah peminat budaya Korea terbesar di dunia. Temuan tersebut kembali diperkuat oleh survei GoodStats pada tahun 2022, yang menunjukkan bahwa Indonesia tetap berada pada posisi pertama, diikuti oleh Filipina di peringkat kedua dan Korea Selatan di peringkat ketiga (Hasibuan, Hamda, Dewi, & Saprijal, 2023). Rangkaian temuan tersebut mengindikasikan bahwa fenomena Korean Wave telah berkembang secara masif dan memiliki tingkat penetrasi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga menjadi salah satu budaya populer yang memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi, gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat.
Proses penyebaran Korean Wave di Indonesia telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Budaya ini pertama kali memperoleh popularitas pada sekitar tahun 2002 melalui tayangan drama korea (K-Drama). Salah satu titik awal penyebarannya adalah penayangan serial drama berjudul Endless Love yang ditayangkan oleh televisi swasta Indosiar pada tahun 2002. Dilansir dari isibali.ac.id masuknya program drama korea ke Indonesia dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi melanda Asia pada tahun 90an, program drama korea ditawarkan lebih murah dari serial drama Jepang dan sepersepuluh dari harga drama televisi Hong Kong di tahun 2000. Keunggulan tersebut membuat drama Korea semakin banyak ditayangkan di televisi nasional. Keberhasilan Endless Love lah yang pada akhirnya membuat serial drama lainnya masuk ke Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi digital dan layanan streaming, akses terhadap konten Korea pun semakin luas, sehingga K-Drama kini dapat dinikmati melalui berbagai paltform hiburan daring dan terus berkontribusi terhadap meningkatnya popularitas Korean Wave di Indonesia.
Tidak hanya drama, salah satu budaya industri yang juga sangat populer di Indonesia adalah industri musik Korea atau biasa disebut K-Pop. Begitu tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap K-Pop sehingga berbagai unsur budaya dalam K-Pop ini diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya adalah munculnya grup musik perempuan (girlband/girlgroup) lokal yang mengadaptasi konsep girl group Korea, mulai dari gaya berpakaian, jenis musik, koreografi, sistem keanggotaaan, hingga konsep penampilan. Beberapa di antaranya seperti Cherry Belle, 7icons, dan yang terbaru, No Na dan MARBLES. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengaruh K-Pop tidak hanya terbatas pada konsumsi musik, tetapi juga memengaruhi perkembangan industri hiburan di Indonesia.

Source Picture: https://exhibitions.asianart.org/exhibitions/hallyu-the-korean-wave/
Seperti yang digambarkan sebelumnya, pengaruh Korean Wave tersebut tidak berhenti pada tahap konsumsi budaya, melainkan berkembang menjadi adaptasi dan inovasi budaya. Salah satunya adalah grup musik No Na yang mengadaptasikan format girl group Korea, namun tetap mengangkat budaya lokal Indonesia sebagai identitasnya. Hal tersebut diwujudkan mulai dari penggunaan lirik yang berbahasa Indonesia, pembuatan video klip di kawasan persawahan dan air terjun untuk mengenalkan alam Indonesia, serta penyisipian berbagai unsur budaya lokal lainnya untuk memperkenalkan Indonesia ke audiens internasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer Korea di Indonesia tidak hanya ditiru, tetapi juga diadaptasi untuk menghasilkan identitas budaya yang baru.
Adaptasi tersebut memperoleh respons yang positif di pasar global. Grup No Na terbilang berhasil menarik pendengar bulanan lebih dari 2,6 juta di Spotify, dengan basis penggemar yang tersebar di Malaysia, Filipina, Thailand, Meksiko, hingga Amerika Serikat. Capaian tersebut menjadi sebuah kebanggaan bagi Indonesia yang berhasil mengombinasikan konsep format budaya industri hiburan Korea namun mengaplikasikannya dengan identitas budaya Indonesia untuk mengenalkan Indonesia ke kancah internasional.
Selain munculnya grup musik lokal yang mengadaptasi konsep K-Pop, pengaruh Korean Wave juga terlihat dari banyaknya talenta Indonesia yang berhasil menembus industri hiburan Korea Selatan. Salah satu contohnya adalah, Nyoman Ayu Carmenita atau biasa disebut Carmen, anggota grup Hearts2Hearts. Berdasarkan laporan Detik.com, gadis kelahiran pulau dewata ini mengharumkan nama Indonesia menjadi idol K-Pop asal Indonesia pertama yang debut di bawah naungan SM Entertainment, salah satu agensi hiburan terbesar di Korea Selatan. Agensi ini menjadi rumah bagi sejumlah grup K-Pop legendaris seperti SNSD, Super Junior, EXO, NCT, Red Velvet, dan aespa. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan tidak lagi terbatas pada konsumsi produk budaya, tapi juga membuka peluang bagi talenta Indonesia untuk berpartisipasi langsung dalam industri hiburan Korea.
Meningkatnya popularitas Korean Wave juga tercermin dari tingginya partisipasi penggemar dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan industri hiburan Korea. Akan tetapi, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara penggemar menikmati konten dan beriteraksi dengan idolanya, termasuk konser maupun fan meeting. Berdasarkan data Katadata Insight Center tahun 2022 dalam konteks industri hiburan konser atau fan meeting yang dilakukan secara daring lebih sering ditonton. Sejumlah 53.3% pernah menonton konser online sebanyak 1 kali. Tingginya minat terhadap aktivitas digital tersebut menunjukkan bahwa platform daring mampu memperluas akses penggemar untuk menikmati berbagai konten hiburan Korea tanpa harus hadir secara langsung. Selain lebih mudah dijangkau, konser daring juga menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan menghadiri konser secara luring yang umumnya memerlukan biaya besar, seperti pembelian tiket, transportasi, dan akomodasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital berperan penting dalam memperluas jangkauan serta memperkuat keterlibatan penggemar terhadap budaya populer Korea di Indonesia.
Selain memengaruhi industri hiburan, Korean Wave juga memberikan dampak terhadap penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Intensitas masyarakat dalam mengkonsumsi drama, musik dan berbagai konten digital asal Korea Selatan membuat sejumlah kosakata bahasa Korea semakin akrab digunakan dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan kata seperti, oppa, annyeong, kamsahamnida, gomawo, mian, dan berbagai ungkapan lainnya kerap disisipkan dalam komunikasi oleh para penggemar Korean Wave. Fenomena ini menunjukkan bahwa Korean Wave tidak hanya mempengaruhi preferensi hiburan, tetapi juga membentuk kebiasaan berbahasa sebagai bagian dari ekspresi identitas dan kedekatan terhadap budaya Korea. Bahkan, kata oppa telah diakui penggunaannya dalam bahasa Indonesia dengan dicantumkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada tahun 2021.
Pengaruh tersebut terus mengubah aspek bahasa dan tercermin dalam perilaku masyarakat di ruang digital. Salah satu fenomena menarik yang terjadi pada tahun 2025 adalah ketika sejumlah pengguna media sosial X di Indonesia menggunakan alfabet Korea (Hangeul) untuk menuliskan kritik terhadap pemerintah. Penggunaan hangeul dilakukan sebagai salah satu cara agar unggahan mereka dapat terhindari dari sensor. Dari sini, kita bisa melihat bahwa budaya Korea ini telah merasuk menjadi bagian praktik komunikasi masyarakat Indonesia, baik di ruang laring maupun di ruang digital.
Tingginya penetrasi Korean Wave di Indonesia juga diperkuat oleh berbagai penelitian. Pada Desember tahun 2024 adanya penyelenggaraan workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation salah satu kandidat PhD, Gangsim Enom dari Harvard University mengakui kaget karena hasil penelitiannya 53,5 persen orang indonesia merasa tidak asing lagi dengan budaya korea. Namun sebaliknya ketika Gangsing Enom menanyakan seberapa asing terhadap budaya daerah yang jauh di Indonesia namun hasilnya hanya 15,8 persen yang menjawab tidak asing, bahkan 27,2 persen respondennya menjawab cukup asing dengan budaya Indonesia. Temuan-temuan ini menggambarkan bahwa penetrasi Korean Wave di Indonesia telah berlangsung secara luas dan mendalam, bahkan pada beberapa aspek tingkat pengenalannya mampu melampaui pemahaman terhadap keragaman budaya nasional. Ini menunjukkan, Korean Wave telah berkembang menjadi bagian dari dinamika sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
