Masyarakat dunia mengalami disrupsi dalam skala besar akibat Covid-19. Disrupsi ini menjadi peluang bisnis baru, bagi mereka yang siap secara digital dalam melayani dan mendistribusikan produk dan jasanya di era new normal economy. Survival bisnis sangat bergantung pada kemampuan dan kecepatan kita semua untuk beradaptasi dengan kondisi pasar, dan kita semua diharuskan menyesuaikan diri dengan situasi saat ini supaya bisa menjemput ‘bola’ kesempatan (opportunity)

Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang (Februari 2021). Jumlah tersebut meningkat 26,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,93 juta orang. BPS juga mencatat jumlah pekerja lepas atau freelancer sebanyak 33,34 juta (Agustus 2020). Kemungkinan jumlah ini akan terus meningkat sampai beberapa tahun ke depan karena pandemi yang belum terlihat akan segera berakhir.

Salah satu pekerjaan freelance yang cukup diminati adalah di bidang teknologi informasi yang menggambarkan berbagai teknologi, seperti perangkat keras, perangkat lunak, dan perangkat komunikasi, serta jasa pembuat konten.

Transformasi & Gig Economy

Dunia kerja saat ini mengalami transformasi pesat berkat perkembangan internet, sebab melalui internet, pekerjaan-pekerjaan kontrak jangka pendek amat mudah didapatkan.

Melonjaknya pekerjaan-pekerjaan kontrak menggunakan jasa freelancer dalam jumlah yang amat besar ini dikenal dengan sebutan gig economy.  Istilah ini terus berkembang di era industri 4.0 dan menjadi fenomena yang positif. Dari sudut pandang lainnya, gig economy kerap didefinisikan sebagai lingkungan kerja yang fleksibel dalam hal jam kerja. Di Amerika Serikat, per Agustus 2021 diperkirakan bertambah sekitar 10 juta dari 57 juta pekerja yang merupakan bagian dari gig economy, seperti dikutip dari Forbes.com (3/8/2021).

Ms. Molly Turner, Lecturer, Haas School of Business, University of California Berkeley mengemukakan, “The gig economy is not new – people have always worked gigs… but today when most people refer to the “gig economy,” they’re specifically talking about new technology-enabled kinds of work.” – Gig economy bukanlah konsep baru, tapi telah berkembang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir.

Bagi Molly Turner, pertumbuhan tenaga kerja gig economy dalam dekade terakhir ini telah didorong oleh pengembangan teknologi baru, yang memungkinkan adanya transaksi langsung, antara penyedia dan konsumen, dan sulitnya menemukan pekerjaan tetap. Di satu sisi, platform teknologi berbasis aplikasi menggantikan orang sebagai perantara (hub) untuk menghubungkan konsumen dan produsen dengan cepat dan mudah. Juga memungkinkan individu untuk melakukan berbagai tugas untuk konsumen berdasarkan real-time demand.

Di sisi lain, orang semakin tertarik pada sektor pekerjaan sebagai freelancer. Baik untuk menambah penghasilan atau beberapa dari mereka tidak mendapatkan pekerjaan tetap dan penuh waktu, agar tetap dapat memutar ekonomi kehidupan.

Adam Ozimek, kepala ekonom Upwork mengatakan freelancer adalah sumber bakat penting untuk bisnis dan bagian yang akan berkembang dari angkatan kerja. Karena semakin banyak orang mencari fleksibilitas yang lebih besar dan peluang kerja jarak jauh, bisnis yang tidak memanfaatkan bakat freelancer akan kehilangan kesempatan menggunakan jasa para profesional.

Bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi, yang kini menjadi tulang punggung peralihan pekerja dari sektor formal ke sektor informal, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan bagi keluarganya dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pesatnya perkembangan aplikasi digital seperti Gojek, Grab, Ruangguru, Tokopedia, Halodoc, Gigi.id dan lainnya menandai hal tersebut.

Animo masyarakat akan kehadiran aplikasi digital tersebut memang begitu besar. Banyak orang yang akhirnya melamar pekerjaan di perusahaan rintisan (start up). Aplikasi yang menampung para pekerja lepas juga terus bertambah jumlahnya menambah geliat perkembangan gig economy.

Freelancer, penggerak roda perekonomian

Melonjaknya fenomena gig economy sebenarnya tidak mengejutkan. Anthony Hussenot, profesor dari Université Nice Sophia Antipolis (UNS) telah memprediksi di artikelnya “Is freelancing the future of employment?”. Ia menyatakan bahwa pekerjaan lepas (freelance) adalah pekerjaan masa depan.

Namun, banyak juga kekhawatiran kalau pekerja lepas ini rentan dieksploitasi oleh perusahaan penyedia layanan kerja. Bagi beberapa jenis pekerja yang memiliki keterampilan profesional, freelance justru menawarkan fleksibilitas, serta penghasilan menggiurkan. Kabar baiknya, eksekutif perusahaan dapat memiliki akses ke kumpulan para freelancer yang terampil, berbakat, dan bermotivasi tinggi yang lebih luas dan lebih dalam, tanpa biaya tambahan yang terkait dengan karyawan penuh waktu.

Itulah mengapa kami hadir sebagai platform kolaborasi komunikasi yang memungkinkan para  praktisi bekerja sama dengan pelaku bisnis, UKM, organisasi maupun pemerintah di berbagai daerah di Indonesia.

Oleh karena itu, di fase awal ini Briefer siap mendukung serta memfasilitasi kebutuhan dinamis di industri komunikasi, dengan menyediakan tempat bagi setiap pelaku komunikasi khususnya tenaga lepas supaya bekerja dengan standar yang setara dalam sebuah ekosistem.

Sebab kami percaya bahwa karya terbaik berasal dari kolaborasi. Karenanya melalui Briefer, kami berharap dapat membangun kolaborasi lintas stakeholder dalam ekosistem komunikasi yang sehat, kredibel, komprehensif dan efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *